Control Dokter in 38 weeks

5 Februari 2014

Hari ini adalah jadwal control 2 mingguanku ke dokterku. Usia kandunganku memasuki 38 minggu.

Seperti biasa, aku booking nomor antrian pada hari Sabtu 1 Feb 2014. Sengaja coba booking dari jauh-jauh hari mengingat awal minggu februari ini suamiku dapat shift pagi. Itu artinya agak susah untuk daftar datang langsung ke RS. Alhasil kami dapat nomor antrian ke-22.

12.00

Suamiku hari ini ijin pulang cepet, langsung cuzzz ke RS Mitra untuk daftar ulang and pembayaran. Tiba di RS pukul 1.15pm WIB. Alhasil kami dapat nomor antrian ke 14.

Naah selesai daftar, suamiku langsung pulang ke rumah and jemput istrinya yang cantik ini :D. Tiba di rumah pukul 02.00 wib.Β Setelah sampai rumah, kami langsung menuju ke RS.

03.00 pm

Sampai di RS, “lhaaa kok kosong? Gak ada antrian di dokter Lina? Apa jangaaaan-jangaaan…”

Aku langsung panik and langsung tanya ke suster jaga saat itu. Aku kira sudah habis antrian dan dokternya sudah pulang. Yahhh kita datang juga memang kesorean sih. Tapi ya mau gimana lagi, jalanan lagi pada banjir dimana-mana, plus ujan pulak seharian 😦 Alhamdulillah dokter masih menunggu aku sebagai pasien terakhir saat itu dan aku diperbolehkan control. Alhamdulillaaaahhhh πŸ™‚

Setelah dicek tensi darah dan berat badan (eh iya, BBku sempet turun lho bun, dari 75 kg menjadi 74 kg. Gara-gara 2 hari kemarin aku diare hikss.. susternya aja sampe kaget BBku turun) aku masuk ke ruangan dokter.

Dokter bertanya apa saja keluhannya selama ini. Aku bilang aja, diare.. gara-gara masuk angin 😦 hahaaa.. ternyata, dokter bilang, walaah ini udah pasien saya ke berapa ini yang datang and mengeluh ke saya pada diare semua πŸ™‚ cuaca lagi gak bagus. Jadi akan berefek gak bagus buat lambung ibu hamil

Setelah lihat kartu riwayat aku, kita langsung menuju ke tempat tidur untuk dilakukan lagi tes USG. Horeee.. ini bagian yang paling aku sukaa πŸ™‚

Seperti biasa dokter mengecek keberadaan posisi si bayi, berat badan bayi, volume air ketuban. Alhamdulillah jumlah air ketubanku masih di angka 15 (normalnya minimal 8) *lupa satuannya apa*. Berat badan babynya sudah mencapai 2.4 kg. Lingkar badan, detak jantung, dll semua normal. Sudah siap lahir. Yang mengejutkanku yaitu dokter bilang, “Ini rambutnya tebel banget bu. Nihhh keliatan lanugo (rambut-rambut tipisnya)” wuii.. senengnyaa. Kayaknya gara-gara aku rajin konsumsi air rebusan air kacang ijo kali yah? Hehee.. gak tau juga. Itu mitos apa beneran.

Selesai di USG, dokter langsung melanjutkan dengan periksa dalam. Wheeww..bayanganku langsung macem-macem deh. Mulai dari rasa sakit, nyeri dan lain-lain. Aku sampe bertanya ke dokter, “Duuh…dok, sakit gak?” Dokter menjawab sambil tertawa, “Ya gaklaah bu Caroline. Santai aja. Jangan tegang. Kalo tegang nanti pasti ngerasa sakiit. Masa udah pernah lahiran normal masih takut? πŸ™‚

Hehe ..iyaa ternyata dokter benaar! Gak sakit kok. Tujuan pemeriksaan dalam (PD) ini untuk mengetahui apakah kepala si baby sudah masuk ke jalan lahir apa belum, apakah sudah ada pembukaan atau belum, dsb.

Hmm.. selain ngecek pembukaan, selesai PD ini dokter menemukanku keputihan lagi hikss..

Dokter bilang, “Sebenarnya keputihan ini tidak mengganggu. Tapi kalau jelang kelahiran seperti ini, gak bagus. Karena nanti jamurnya bisa menempel di mata atau kepala bayi. Akibatnya nanti bisa jadi penyakit pada bayi. Makanya kalau mau lahiran, vaginanya harus bersih.

Huuw.. akhirnya aku disuruh pakai obat keputihan lagi *canesten*. Harganya di apotik 107.000 rupiah. Aku gak tau kalau harga di Rumah Sakit seperti Mitra Bekasi Barat ini berapa. Karena pengalaman dulu waktu nebus obat (yang ada obat canesten ini) gak dikasih copy resepnya 😦 jadi gak tau harga realnya 😦 yang pasti harga di apotik luar pastinya lebih murahlah ya πŸ™‚

Iya emang sih, keputihan ini menggangguku sebenarnya. Cuma gak aku hiraukan. Karena porsinya gak terlalu banyak. Tapi cukup gatal dan kadang sedikit berbau. Aku mengakalinya dengan sedikit-sedikit ke kamar mandi, membersihkan vaginaku sampai bersih, ganti pakaian dalam sesering mungkin (kalau sudah terasa basah) dan memastikan vaginaku kering setiap kali sehabis pipis. Aku sengaja tidak lagi menggunakan pantyliners di akhir trimester ketiga ini. Karena aku banyak di rumah, jadi bisa kuganti sesering mungkin. Sehari bisa ganti minimal 4x πŸ™‚ jadi ya kerjaannya tiap hari cuci celana dalam πŸ™‚

Kalo kata dokterku, “Yaah namanya juga ibu hamil. Ya memang resikonya seperti itu. Keputihan. Jadi ya jangan kapok kalo ngalemin kejadian seperti ini terus πŸ™‚

Selesai control, dokter memintaku banyak berdoa karena ini sudah waktunya cukup umur untuk dilahirkan. Insyallah sehat terus sampai persalinan. Kembali control minggu depan πŸ™‚

Ini ceritaku di minggu 38. Apakah ada yang mengalami hal yang serupa? Sharing ke aku yaa..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.