Beberapa Tehnik Mengejan Yang Perlu Bumil Ketahui

Kalau misalnya ditanya, ingin persalinan normal atau cessar? Kayaknya hampir 90% ibu-ibu akan menjawab ingin persalinan normal ya. Tapi tahukah bunda, untuk bisa menjalani proses persalinan normal juga ada beberapa tahapan yang harus dilalui, salah satunya harus rajin senam hamil dan mempelajari tehnik-tehnik mengejan. Semua tehnik-tehnik mengejan itu kita pelajari saat kita ikut senam hamil bun. Nah, sekarang setelah saya melalui proses hamil 9 bulan dan melahirkan, saya akan berbagi cerita bahwa belajar tehnik mengejan itu perlu lho.

Proses persalinan itu terbagi menjadi tiga fase besar. Dari tiga fase besar tersebut, fase kedua menjadi puncak dari proses persalinan it sendiri. Karena pada tahap ini, pembukaan mulut rahim sudah lengkap dan bunda sudah bisa mendorong janin keluar. Nah, pada waktu ini aktivitas mengejan memegang penting bagi terbantunya janin melewati jalan lahir. Untuk itu, mengejan perlu dilakukan dengan benar.

Kontraksi yang terjadi pada fase kedua persalinan tidak sesering pada akhir fase pertama, sehingga sebenarnya bunda bisa memanfaatkan jeda waktu diantara kontraksi untuk beristirahat sekaligus mengumpulkan energi untuk mengejan pada waktu yang tepat nanti.

Saat mengejan, otot-otot yang sebaiknya digunakan adalah otot-otot abdominal atau otot perut. Bukan otot leher atau wajah. Atau juga kaki. Karena jika kita salah menggunakan otot dengan benar saat mengejan, hanya akan menghabiskan energi, sehingga saat menghadapi persalinan terakhir, yaitu saat mendorong tubuh janin keluar perlu ekstra power (tenaga tambahan).

Secara umum, ada dua cara mengejan, yaitu metode coached pushing atau tehnik mengejan terlatih dan metode spontaneous pushing atau tehnik mengejan spontan. Saya bahas satu persatu ya.

Spontaneous Pushing (Listen to Your Body)

Spontaneous pushing atau tehnik mengejan spontan dilakukan untuk mengikuti ritme alami tubuh kita. Jadi kita bisa mengejan saat kita memang merasakan dorongan dari dalam tubuh kita untuk melakukannya. Atau saat kita merasa ingin melakukannya.

Tehnik mengejan spontan juga membebaskan kita untuk mengambil posisi apapun yang nyaman untuk kita sehingga dapat mengejan. Dokter atau bidan hanya membantu kita untuk lebih ‘peka’ mendengarkan tubuh kita dan menyarankan kita untuk mengejan saat tubuh kita memang memerintahkannya. Mereka hanya memberi bantuan fisik jika diperlukan. Kurang lebih, tehnik ini mirip metode persalinan gentle birth.

Badan WHO menyarankan untuk hanya menggunakan tehnik mengejan spontan pada setiap proses persalinan dan bersikap kontra terhadap penerapan coaching pushing untuk menghindari efek samping yang mungkin terjadi.

Coached Pushing (Follow The Docter Instructions)

Dalam coached pushing, kita mendapat arahan dokter untuk mendorong saat sudah mencapai pembukaan lengkap. Dalam metode ini, dokter akan memberikan instruksi pada kita mengenai cara mengenai cara mengejan. Biasanya kita akan diminta untuk menarik napas panjang di awal setiap kontraksi, menahannya, lalu kemudian mendorong dengan mengencangkan oto perut sambil memfokuskan tenaga pada gerakan di jalan lahir, sementara dokter akan menghitung sampai 10. Lalu kita diminta menarik napas cepat kembali mendorong sampai 10 hitungan lagi. Begitu seterusnya sampai kita melakukan tiga kali mengejan dalam setiap kontraksi.

Panduan untuk mengejan itu biasanya dimulai segera setelah mulut rahim membuka penuh sebesar 10 cm. Fase mengejan ini bisa berlangsung selama beberapa menit atau jam. Untuk mencegah robekan, kita akan diminta berhenti mengejan sementara saat kepala janin sudah muncul di jalan lahir (posisi crowning). Ini karena, bagian ujung kepala janin sampai daerah di sekitar alisnya adalah bagian terbesar yang akan keluar dari jalan lahir, sehingga jika kita terus mengejan saat bagian ini keluar, kemungkinan robekan yang akan kita alami akan menjadi lebih besar.

Ada ahli yang beranggapan bahwa coached pushing dilakukan untuk mempercepat proses persalinan fase kedua, karena jika fase ini berlangsung terlalu lama, dikhawatirkan kondisi janin justru dalam bahaya. Tetapi menurut sebah penelitian di Amerika Serikat, hal ini belum sepenuhnya terbukti. Menurut penelitian tersebut, fase kedua persalinan yang berlangsung selama lebih dari 2 jam tidak akan mempengaruhi kesehatan bayi setelah dilahirkan.

Coached pushing bisa diterapkan pada pasien bersalin yang ingin melahirkan normal tapi terlalu takut menghadapi prosesnya, jadi ia tidak mampu berkonsentrasi membaca ritme tubuhnya.

Benarkah Lebih Singkat?

Ada beberapa hali yang membuat penelitian membandinn spngkan antara coached pushing dengan spontaneous pushing pada ibu yang mendapat epidural. Hasilnya, memberikan panduan untuk mengejan segera setelah calon ibu mengalami penbukaan lengkap dapat mempersingkat durasi fase kedua persalinan selama sekitar 58 menit.

Perlu Diperhatikan Ya Bunda

Secara otomatis, tubuh kita akan memberikan sinyal kok, kapan siap mengejan ketika pembukaan sudah lengkap. Yang perlu kita ingat, sekali kita merasakan dorongan, kita bisa mengejan selama beberapa detika pada puncak kontraksi. Jadi mengejan bukan dilakukan sepanjang kontraksi berlangsung ya.

Ketepatan waktu mengeja ini sering luput dari perhatian para ibu. Karena biasanya, saat janin mulai turun dan memberikan tekanan yang semakin meningkat di daerah panggul, keinginan mengejan sudah ada tetapi belum efektif. Saat kontraksi, para ibu cenderung mendorong lebih kuat dengan intensitas lebih sering sehingga menyebabkan kelelahan padahal perjalanan janin untuk keluar masih cukup panjang.

Jika selama proses persalinan kita mendapat epidural, dorongan untuk mengejan mungkin tidak terlalu terasa. Jadi hasrat untuk mendorong itu akan didapat saat posisi janin sudah sangat di bawah mendekati jalan lahir. Inipun jika kita mampu menangkap sensasi tersebut, karena biasanya obat anestesi pada epidural akan sangat menyamarkan rasa mulas dan sakit yang kita rasakan.

Jadi ingat dulu waktu saya detik-detik terakhir ingin melahirkan, sekarang saya jadi tahu kenapa waktu di pembukaan 1-4, saya harus banyak istirahat dan banyak makan oleh bidan waktu itu. Karena ini penting banget menabung kekuatan mendorong si janin itu. Karena kalau kitanya kurang tidur, kita jadi tidak ada tenaga. Apalagi kalau kita tidak makan sama sekali. Pada beberapa ibu hamil, di detik-detik di ruang bersalin hawanya seperti malas makan, ngantuk tapi gak bisa tidur. Tapi alhamdulillah sih waktu itu nafsu makan saya tetap ada, jadwal makanpun normal, malahan saya sempat minta dibelikan Pizza dan bubur ayam depan rumah sakit oleh suami saya. Karena memang waktu itu bawannya lapar terus. Di ruang bersalin itu cukup dingin sehingga membuat perut ini sering lapar.

Nah, bun, segitu dulu tehnik-tehnik mengejan yang saya tahu. Semoga info yang saya sharing ini bisa bermanfaat ya Bunda.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s